Memuat update terbaru...
berita

Rakor Pac Pp Mulyorejo Canangkan Tiga Progres

Rudi Gunawan

Jurnalis

Rudi Gunawan

Rakor Pac Pp Mulyorejo Canangkan Tiga Progres

mediaindonesiajaya.com - Rakor PAC Pemuda Pancasila Mulyorejo yang mencanangkan tiga progres pada 2019 kembali relevan dibaca hari ini karena jejak rapat itu memperlihatkan cara sebuah organisasi akar rumput merapikan barisan menjelang agenda nasional. Sebelumnya dilaporkan bahwa kegiatan tersebut digelar untuk mensukseskan Musyawarah Besar di Jakarta pada 25-28 Oktober 2019. 

Dalam perkembangan terbaru, update terkini per 6, Nov, 2026, 14:42:03 menunjukkan organisasi yang sama baru saja menuntaskan Musyawarah Besar XI pada 14 Oktober 2026 di Jakarta dan kembali menetapkan kepemimpinan nasionalnya. Garis yang menghubungkan rapat kecil di Surabaya pada 2019 dengan forum besar di Jakarta pada 2026 itulah yang membuat arsip ini layak di-upgrade, bukan sekadar disimpan sebagai nostalgia.

Tiga Progres yang Dicanangkan dalam Rakor Mulyorejo 2019

Data historis mencatat, rakor tersebut mencanangkan tiga progres utama. Pertama, pembuatan KTA PP yang baru. Kedua, program untuk kemajuan PAC dan Ranting ke depan. Ketiga, persiapan Mubes di Jakarta. Tiga agenda itu terdengar sederhana di atas kertas, tetapi bagi struktur PAC, ketiganya adalah fondasi organisasi. KTA bukan sekadar kartu identitas, melainkan penanda keanggotaan yang sah, alat pendataan, dan pintu masuk pembinaan. 

Program kemajuan PAC dan Ranting menentukan apakah organisasi bergerak atau hanya sekadar ada papan nama. Persiapan Mubes menentukan apakah suara dari bawah benar-benar sampai ke forum nasional. Sementara itu, data sebelumnya menunjukkan bahwa ketiga progres itu dirumuskan dalam suasana rapat yang padat usulan, bukan sekadar seremoni.

Lokasi, Waktu, dan Tuan Rumah Rakor yang Tak Boleh Hilang dari Arsip

Kegiatan Rakor tersebut dilaksanakan di rumah Achmad Khusnul Arifin, Wasekjen PAC Mulyorejo Surabaya, pada Jumat 11 September 2019 pukul 19.00 WIB. Informasi ini penting karena memperlihatkan karakter organisasi tingkat kecamatan yang masih kuat dengan budaya silaturahmi rumah ke rumah. Rapat tidak digelar di gedung megah, melainkan di ruang yang akrab bagi kader. Pilihan lokasi seperti itu sering membuat diskusi lebih cair, lebih jujur, dan lebih berani menyampaikan usulan. 

Dalam perkembangan terbaru, pola konsolidasi serupa masih terlihat di banyak daerah, meski kini rapat juga dilengkapi grup pesan, siaran langsung, dan dokumentasi digital. Berdasarkan informasi terkini, budaya rapat tatap muka tetap menjadi denyut utama Pemuda Pancasila di tingkat PAC dan Ranting, karena kepercayaan kader dibangun lewat kehadiran, bukan hanya lewat pesan teks.

Artikel lama ini ditulis oleh Ma'sum Af dan diterbitkan pada 12 Oktober 2019 di mediaindonesiajaya.com, dengan keterangan 1.623 total views dan 2 views today pada masa itu, serta ditutup dengan penanda redaksi S.nto dan Ma. Detail penanda waktu dan penulis ini dipertahankan apa adanya sebagai aset historis. Sebelumnya dilaporkan bahwa judul aslinya adalah RAKOR PAC PEMUDA PANCASILA MULYOREJO CANANGKAN TIGA PROGRES. 

Kini, pada 6 November 2026, artikel yang sama diperbarui dengan konteks baru agar pembaca masa kini bisa melihat kelanjutan ceritanya. Cara membaca arsip seperti ini bukan dengan membuang yang lama, melainkan dengan menaruh yang lama di samping yang baru, lalu membiarkan pembaca menilai sendiri sejauh mana janji organisasi pada 2019 terealisasi pada 2026.

Siapa Saja yang Hadir dan Enam Ranting yang Merapatkan Barisan

Rapat koordinasi tersebut dihadiri pengurus ranting dan anggota, dengan total kurang lebih 50 personil, baik dari pengurus maupun anggota serta Srikandi. Angka itu bukan angka kecil untuk ukuran rapat tingkat PAC pada malam hari. Kehadiran 50 orang menunjukkan mesin organisasi di Mulyorejo masih hidup. Yang hadir berasal dari Ranting Manyar Sabrangan, Dukuh Sutorejo, Kejawan Putih Tambak, Kalijudan, Kalisari, dan Mulyorejo. Enam ranting ini menjadi penopang utama PAC Mulyorejo. 

Setiap ranting membawa persoalan wilayahnya masing-masing, mulai dari persoalan sosial, kebutuhan bakti sosial, hingga persoalan pembinaan anggota baru. Update terkini per 6, Nov, 2026, 14:42:03 menegaskan bahwa kekuatan Pemuda Pancasila hingga kini tetap bertumpu pada struktur berjenjang seperti ini, dari MPN di pusat, MPW di provinsi, MPC di kabupaten kota, PAC di kecamatan, hingga Ranting di kelurahan.

Foto yang menyertai artikel lama memperlihatkan dua momen penting. Satu foto diberi keterangan foto bareng dalam Rakor jajaran pengurus PAC PP Mulyorejo Surabaya dan pengurus Ranting. Foto lain diberi keterangan acara rapat koordinasi PAC dan Ranting PP Mulyorejo, serta jajaran pengurus PAC dan Ranting PP Mulyorejo. Dokumentasi seperti itu pada 2019 menjadi bukti kehadiran dan kebersamaan. 

Pada 2026, dokumentasi serupa makin masif karena setiap kader bisa merekam, mengunggah, dan menyebarkan kegiatan dalam hitungan detik. Meski mediumnya berubah, fungsinya sama, yakni membuktikan bahwa organisasi benar-benar bekerja di lapangan. Bagi pembaca yang mencari jejak organisasi masyarakat di Surabaya, foto dan daftar ranting pada 2019 ini adalah jejak autentik yang tidak bisa digantikan oleh klaim sepihak.

Pesan Ketua PAC: Kekompakan, Sopan, dan Jangan Jadikan KTA Tameng

Ketua Pemuda Pancasila PAC Mulyorejo, Judianto, yang akrab disapa Deni, menyampaikan pesan yang sampai kini masih sangat relevan. Ia berpesan supaya semua anggota Pemuda Pancasila tetap berkomitmen menjaga kekompakan dan persatuan yang solid serta loyalitas yang tinggi, berperilaku sopan tidak arogan serta bijak sesuai aturan AD ART Ormas. Pesan itu menegaskan bahwa organisasi tidak boleh hanya besar di jumlah, tetapi harus besar di sikap. 

Kekompakan yang dimaksud bukan sekadar kompak saat foto bersama, melainkan kompak saat ada warga yang butuh bantuan, kompak saat ada program sosial, dan kompak saat harus menahan diri dari konflik yang tidak perlu. Loyalitas yang dimaksud bukan loyalitas buta, melainkan loyalitas pada aturan, pada organisasi, dan pada kepentingan masyarakat.

Bagian paling tajam dari pesan Deni pada 2019 adalah peringatan agar anggota tidak ikut Pemuda Pancasila hanya untuk mendapatkan seragam serta KTA-nya saja untuk dibuat tameng dan disalahgunakan dengan perbuatan melawan hukum. Kalimat itu layak digarisbawahi karena menyentuh akar persoalan citra organisasi masyarakat di mata publik. Seragam dan KTA seharusnya menjadi simbol tanggung jawab, bukan alat untuk menakut-nakuti warga, menekan pihak lain, atau melindungi pelanggaran. 

Harapannya ke depan, kata Deni kepada media Indonesia Jaya, semoga Pemuda Pancasila PAC Mulyorejo dapat berkembang dan berkontribusi berguna bagi masyarakat. Dalam perkembangan terbaru, pesan semacam ini justru makin sering digaungkan pimpinan nasional. Pemuda Pancasila pada 2026 didorong tampil humanis dan merakyat, bukan tampil dengan gaya intimidatif yang justru menjauhkan warga.

Kader Pemuda Pancasila Surabaya PAC Mulyorejo
Kekompakan kader di tingkat PAC dan Ranting menjadi modal utama organisasi untuk berkontribusi bagi warga.

Usulan Bakti Sosial yang Muncul dari Anggota

Dari rapat koordinasi tersebut banyak usulan positif dari anggota Pemuda Pancasila dalam mengembangkan dan memajukan Pemuda Pancasila khususnya Pengurus Anak Cabang PAC Mulyorejo. Salah satunya adalah program untuk bakti sosial. Usulan ini penting karena menandakan bahwa anggota di bawah tidak hanya memikirkan urusan internal, seperti KTA dan struktur, tetapi juga memikirkan manfaat bagi lingkungan. 

Bakti sosial bisa berbentuk kerja bakti, santunan, donor darah, pembagian sembako, hingga pendampingan warga yang terdampak musibah. Di wilayah padat seperti Mulyorejo, Surabaya, kegiatan semacam ini sering lebih dirasakan warga ketimbang sekadar rapat dan seremoni. Warga mungkin lupa isi rapat, tetapi mereka ingat siapa yang datang saat banjir, siapa yang membantu saat ada warga sakit, dan siapa yang hadir saat kampung butuh gotong royong.

Pada konteks 2026, dorongan bakti sosial makin relevan karena organisasi masyarakat dituntut membuktikan manfaat sosialnya secara nyata. Pemerintah dan publik kini lebih kritis menilai ormas, bukan dari besarnya atribut, melainkan dari jejak programnya. 

Jika PAC Mulyorejo pada 2019 sudah mencanangkan bakti sosial sebagai usulan anggota, maka pada 2026 publik berhak bertanya, program itu berjalan sejauh mana, berapa warga yang terbantu, dan apakah kegiatan itu berkelanjutan atau hanya sesaat menjelang Mubes. Redaksi menilai pertanyaan semacam itu sehat. Organisasi yang berani dievaluasi adalah organisasi yang siap bertumbuh. Untuk pembaca yang ingin melihat dinamika organisasi lain di Surabaya, laporan tentang kegiatan Bimtek Gugus Tugas di Surabaya yang melibatkan MPW Pemuda Pancasila Jatim bisa menjadi pembanding tentang bagaimana kader di Jawa Timur bergerak dalam isu sosial dan kemanusiaan.

Dari Mubes 2019 Menuju Mubes XI 2026: Evolusi yang Terjadi

Pada awalnya dilaporkan, Rakor Mulyorejo digelar menjelang Mubes di Jakarta pada 25-28 Oktober 2019. Itu adalah Mubes yang menjadi penanda regenerasi dan konsolidasi nasional pada masa itu. Kini kondisinya berkembang menjadi babak baru. Berdasarkan informasi terkini, Mubes XI Pemuda Pancasila digelar di Jakarta dan mencapai titik penting pada Rabu 14 Oktober 2026. Dalam sidang lanjutan yang digelar sederhana di Jakarta Selatan, KPH H. Japto Soelistyo Soerjosoemarno kembali terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum Majelis Pimpinan Nasional Pemuda Pancasila. 

Beberapa pemberitaan menyebut masa bakti 2026-2031, sementara pemberitaan lain menuliskan periode 2025-2030, perbedaan penyebutan yang perlu dicatat sebagai variasi redaksional media, bukan sebagai penghapusan fakta. Data sebelumnya menunjukkan bahwa pada 2019, Mubes menjadi tujuan persiapan PAC, sementara pada 2026, Mubes XI menjadi penanda keberlanjutan kepemimpinan nasional.

Update terkini per 6, Nov, 2026, 14:42:03 juga mencatat susunan kepemimpinan yang mengemuka setelah Mubes XI. Duet kepemimpinan nasional Japto Soelistyo Soerjosoemarno sebagai Ketua Umum dan Dr. H. Musa Rajekshah yang akrab disapa Bang Ijeck sebagai Sekretaris Jenderal MPN Pemuda Pancasila periode 2026-2031 disebut-sebut sebagai formasi yang mengusung visi humanis dan merakyat. 

Selain itu, Mubes XI juga menetapkan Johan Aripin Muba sebagai Ketua Pelaksana Harian, serta empat posisi Wakil Ketua Umum yang diisi Bambang Soesatyo, Arsad Rasyid, Arif Rahman, dan Roberth Rouw. Kepengurusan lengkap periode berikutnya dijadwalkan diumumkan pada peringatan Hari Lahir ke-67 organisasi tersebut pada 28 Oktober 2026. Bagi PAC seperti Mulyorejo, susunan ini bukan sekadar nama, melainkan arah kebijakan, pola pembinaan, dan gaya komunikasi yang akan turun ke bawah.

Apa Makna Mubes XI bagi PAC di Daerah

Mubes XI pada 14 Oktober 2026 juga menegaskan sikap politik organisasi, yakni mengawal Asta Cita pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan mendukung pemerintahan yang berjalan. Pesan itu disampaikan dalam berbagai pemberitaan Mubes XI yang menyebut Pemuda Pancasila mendukung pemerintah dan mendorong penguatan ekonomi rakyat. Bagi PAC Mulyorejo, pesan nasional seperti itu perlu diterjemahkan menjadi program lokal yang konkret, misalnya pendampingan UMKM, pelatihan kerja, atau penguatan ekonomi keluarga. 

Jika pesan nasional hanya berhenti di spanduk dan pidato, warga tidak akan merasakan bedanya. Jika pesan itu diterjemahkan menjadi pelatihan, pendampingan, dan aksi sosial, warga akan melihat bahwa organisasi benar-benar hadir. Di sinilah relevansi tiga progres 2019 kembali muncul, karena KTA yang tertib, program PAC yang jelas, dan kesiapan mengikuti agenda nasional adalah prasyarat agar pesan pusat bisa dieksekusi di daerah.

Lokasi Mubes XI yang disebut dalam pemberitaan juga menarik dicatat. Lanjutan Mubes XI berlangsung di Winner Backyard, Jalan Ciputat Raya Nomor 8, RT 07/08, Pondok Pinang, Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Suasana sidang digambarkan sederhana, bukan megah. Kontras ini patut direnungkan, karena pada 2019 Rakor Mulyorejo juga digelar sederhana di rumah kader. Kesederhanaan tempat ternyata tidak mengurangi bobot keputusan. 

Justru, dalam banyak organisasi, keputusan besar sering lahir dari ruang yang sederhana, asal dihadiri orang-orang yang serius. Sementara itu, data sebelumnya menunjukkan bahwa pada 2019, PAC Mulyorejo menyiapkan diri untuk Mubes dengan rapat di rumah Wasekjen, sebuah pola yang sejalan dengan semangat kesederhanaan yang terlihat pada Mubes XI 2026.

Analisis Redaksi: Tujuh Tahun Setelah Rakor, Apa yang Berubah dan Apa yang Tetap

Jika ditarik garis dari 11 September 2019 ke 6 November 2026, ada sekitar tujuh tahun perjalanan. Dalam rentang itu, Pemuda Pancasila menghadapi perubahan besar, dari pandemi, perubahan lanskap media sosial, hingga pergantian periode pemerintahan. Yang berubah adalah cara organisasi berkomunikasi, cara merekrut anggota, dan cara mendokumentasikan kegiatan. Pada 2019, foto rapat diunggah ke portal berita dan dibaca lewat komputer atau ponsel dengan jaringan yang masih terbatas. 

Pada 2026, satu kegiatan PAC bisa disiarkan langsung, dipotong menjadi reels, dan dibagikan ke ribuan orang dalam hitungan menit. Yang tetap adalah tantangan lama, yakni menjaga anggota agar tidak menjadikan atribut sebagai tameng, menjaga kekompakan agar tidak pecah karena kepentingan, dan menjaga program agar tidak berhenti di atas kertas.

Analisis redaksi melihat ada tiga tren yang menonjol pada 2026. Pertama, tuntutan profesionalisasi ormas makin kuat. Publik tidak lagi menerima ormas yang hanya mengandalkan atribut dan klaim jumlah anggota. Mereka menuntut data keanggotaan yang valid, program yang terukur, dan laporan kegiatan yang bisa diverifikasi. Kedua, tuntutan humanisasi citra makin keras. Pimpinan nasional pada 2026 secara eksplisit mendorong Pemuda Pancasila yang humanis dan merakyat. 

Itu adalah sinyal bahwa organisasi sadar citra lama yang keras harus dikoreksi dengan aksi yang lembut dan solutif. Ketiga, tuntutan ekonomi rakyat makin nyata. Mubes XI mendorong penguatan ekonomi rakyat, yang berarti ormas tidak bisa hanya bermain di ranah seremoni, tetapi harus masuk ke ranah pemberdayaan, seperti pelatihan, pendampingan usaha, dan kolaborasi dengan pemerintah daerah.

Mubes XI Pemuda Pancasila Jakarta 2026
Mubes XI pada Oktober 2026 menjadi penanda keberlanjutan kepemimpinan dan arah baru organisasi secara nasional.

KTA Baru 2019 dan Tantangan Pendataan Anggota 2026

Progres pertama pada 2019, yakni pembuatan KTA PP yang baru, kini pada 2026 berubah menjadi tantangan pendataan digital. KTA fisik masih penting, tetapi tanpa basis data yang rapi, KTA mudah dipalsukan, digandakan, atau diklaim oleh orang yang tidak pernah aktif. PAC yang tertib pada 2026 adalah PAC yang bisa menjawab pertanyaan sederhana, berapa anggota aktifnya, siapa pengurus rantingnya, kapan terakhir mereka mengikuti kegiatan, dan apa kontribusi mereka. Pertanyaan itu tampak administratif, tetapi jawabannya menentukan kredibilitas. Jika PAC tidak bisa menjawab, klaim 50 personil pada 2019 akan sulit dilacak kelanjutannya pada 2026. Sebaliknya, jika PAC merawat data sejak 2019, mereka bisa menunjukkan grafik pertumbuhan, daftar kader yang naik menjadi pengurus, dan daftar program yang sudah berjalan.

Di Surabaya, persoalan pendataan ini bersinggungan dengan dinamika kota yang sangat mobile. Warga pindah kos, pindah kerja, pindah ranting, dan kadang pindah kota. Tanpa sistem pendataan yang adaptif, anggota yang dulu aktif di Manyar Sabrangan bisa hilang dari radar hanya karena pindah ke Kalijudan atau ke luar kota. Karena itu, program KTA baru pada 2019 seharusnya dibaca sebagai awal dari sistem pendataan, bukan sebagai proyek sekali jadi. Pada 2026, PAC yang cerdas akan menggabungkan KTA fisik dengan grup komunikasi yang aktif, daftar hadir digital, dan arsip kegiatan yang mudah diakses. Pembaca yang tertarik dengan penguatan ekonomi komunitas bisa membandingkan dengan gagasan koperasi sebagai solusi pemberdayaan ekonomi masyarakat yang menekankan pentingnya data anggota dan manfaat nyata bagi anggota.

Peran Srikandi yang Tercatat pada 2019 dan Relevansinya Kini

Artikel lama menyebut kehadiran Srikandi dalam Rakor PAC Mulyorejo. Penyebutan ini tidak boleh dianggap sekadar pelengkap. Kehadiran Srikandi menandakan bahwa perempuan memiliki ruang dalam struktur dan kegiatan PAC, bukan hanya sebagai penonton. Pada 2019, peran perempuan dalam ormas sering kali masih terbatas pada urusan konsumsi, dokumentasi, atau pendampingan. Pada 2026, tuntutan kesetaraan dan keterlibatan perempuan makin terbuka. Perempuan kader kini banyak yang menjadi penggerak bakti sosial, pengelola program pendidikan, humas, hingga pengambil keputusan di tingkat ranting dan PAC. Jika pada 2019 Srikandi sudah hadir dalam rapat 50 personil, maka pada 2026 publik berhak melihat apakah kehadiran itu berkembang menjadi kepemimpinan yang setara.

Dalam konteks Surabaya yang dikenal dengan gerakan perempuan yang kuat, dari PKK, Karang Taruna, hingga komunitas UMKM perempuan, Srikandi Pemuda Pancasila memiliki peluang besar untuk menjadi jembatan. Mereka bisa menggerakkan program yang menyentuh keluarga, seperti posyandu, literasi digital untuk ibu-ibu, pendampingan anak, hingga pelatihan wirausaha rumahan. Program semacam itu sering lebih cepat dirasakan warga ketimbang program yang bersifat seremonial. Jika PAC Mulyorejo ingin membuktikan bahwa pesan Deni pada 2019 benar-benar hidup, salah satu buktinya adalah memberi ruang yang lebih besar bagi Srikandi untuk memimpin program, bukan hanya hadir dalam rapat. Data historis mencatat kehadiran mereka, sementara proyeksi terbaru menunjukkan ruang itu harus diperluas, bukan menyusut.

Surabaya dan Mulyorejo: Konteks Wilayah yang Membentuk Karakter PAC

Mulyorejo adalah salah satu kecamatan di Surabaya Timur yang memiliki karakter campuran, permukiman padat, kawasan pendidikan, kawasan perdagangan, hingga kantong-kantong komunitas yang sangat aktif. Ranting-ranting yang disebut pada 2019, Manyar Sabrangan, Dukuh Sutorejo, Kejawan Putih Tambak, Kalijudan, Kalisari, dan Mulyorejo, masing-masing memiliki karakter sosial yang berbeda. Ada wilayah yang kuat dengan budaya kampung, ada wilayah yang lebih modern dengan banyak pendatang, ada wilayah yang dekat dengan kampus dan pusat pendidikan. Keragaman ini membuat PAC Mulyorejo tidak bisa memakai satu pola pembinaan untuk semua ranting. Ranting yang dekat kampus mungkin lebih cocok dengan program literasi digital dan kepemudaan, sementara ranting yang padat permukiman mungkin lebih membutuhkan program kebersihan, keamanan lingkungan, dan bakti sosial.

Pada 2026, Surabaya terus berkembang sebagai kota metropolitan yang menuntut organisasi masyarakat untuk lebih adaptif. Isu yang dihadapi warga kini lebih kompleks, mulai dari persoalan sampah, banjir lokal saat hujan deras, kemacetan, hingga persoalan ekonomi digital. Ormas yang hanya mengandalkan pola lama akan tertinggal. Ormas yang mampu membaca isu lokal dan menawarkan solusi akan tetap relevan. Misalnya, PAC bisa membantu sosialisasi kesiapsiagaan cuaca, membantu warga memahami layanan pemerintah digital, atau menjadi mitra dalam program lingkungan. Untuk konteks musim, pembaca bisa melihat laporan tentang transisi musim hujan di Jawa Tengah sebagai gambaran bagaimana perubahan cuaca memengaruhi aktivitas warga dan kebutuhan program sosial di lapangan.

AD ART sebagai Rem dan Kompas Organisasi

Pesan Deni pada 2019 yang menyebut aturan AD ART Ormas sering luput dari perhatian pembaca yang hanya fokus pada KTA dan Mubes. Padahal, AD ART adalah rem dan kompas organisasi. AD ART mengatur siapa yang boleh menjadi anggota, bagaimana mekanisme rapat, bagaimana tata cara pemilihan pengurus, bagaimana sanksi bagi anggota yang melanggar, hingga bagaimana organisasi harus bersikap terhadap hukum negara. Tanpa AD ART, organisasi mudah berubah menjadi kelompok yang bergerak berdasarkan selera pimpinan, bukan berdasarkan aturan. Dengan AD ART, setiap kader memiliki pegangan yang sama, sehingga keputusan tidak bergantung pada siapa yang paling keras suaranya, melainkan pada apa yang tertulis dan disepakati bersama.

Dalam perkembangan terbaru, penegakan AD ART makin penting karena organisasi masyarakat kini berada di bawah sorotan publik yang lebih tajam. Setiap pelanggaran oleh oknum anggota bisa viral dalam hitungan jam dan merusak citra seluruh organisasi. Karena itu, PAC yang sehat pada 2026 adalah PAC yang berani menegakkan aturan internal, termasuk memberi sanksi kepada anggota yang menyalahgunakan atribut. Keberanian menegakkan aturan justru akan meningkatkan kepercayaan warga, karena warga akan melihat bahwa organisasi tidak melindungi oknum. Pesan Deni pada 2019 yang meminta anggota berperilaku sopan, tidak arogan, serta bijak sesuai AD ART, kini pada 2026 bisa dibaca sebagai peringatan dini yang masih berlaku penuh.

Proyeksi ke Depan: Tiga Agenda yang Bisa Dilanjutkan PAC Mulyorejo

Dari tiga progres 2019, redaksi melihat tiga agenda lanjutan yang bisa diadopsi pada 2026 dan seterusnya. Pertama, digitalisasi keanggotaan yang rapi dan terverifikasi. PAC perlu memastikan KTA yang dibuat pada 2019 tidak berhenti sebagai kartu, melainkan berkembang menjadi sistem data yang bisa dipertanggungjawabkan. Kedua, program berbasis dampak yang terukur. Program kemajuan PAC dan Ranting pada 2019 perlu diubah menjadi program dengan indikator jelas, misalnya jumlah warga yang terbantu, jumlah pelatihan yang digelar, atau jumlah UMKM yang didampingi. Ketiga, kaderisasi berkelanjutan yang tidak bergantung pada satu tokoh. PAC yang hanya hidup karena satu ketua akan rapuh saat ketua itu berhenti. PAC yang kuat adalah PAC yang memiliki banyak kader muda yang siap memimpin.

Proyeksi ini sejalan dengan arah nasional pasca Mubes XI. Jika pimpinan nasional pada 2026 mendorong Pemuda Pancasila yang humanis, merakyat, dan mengawal ekonomi rakyat, maka PAC Mulyorejo bisa menjadi laboratorium lokal untuk membuktikan arah itu. Misalnya, PAC bisa menggelar pelatihan kewirausahaan untuk pemuda, pendampingan digital untuk pelaku usaha kecil, atau program lingkungan berbasis ranting. Program semacam itu tidak membutuhkan anggaran besar, tetapi membutuhkan konsistensi, data, dan keberanian untuk keluar dari zona nyaman seremoni. Jika tiga progres 2019 dianggap sebagai fondasi, maka tiga agenda lanjutan ini adalah bangunan di atasnya yang harus mulai dikerjakan sekarang, bukan ditunda hingga menjelang Mubes berikutnya.

Apa yang Bisa Dipelajari Pembaca dari Arsip Ini

Pembaca yang menemukan artikel ini pada 2026 mungkin bertanya, mengapa arsip rapat kecil pada 2019 perlu dibaca lagi. Jawabannya sederhana, arsip adalah cermin. Arsip memperlihatkan bahwa persoalan organisasi pada 2019 dan 2026 ternyata tidak jauh berbeda, yakni soal data anggota, program yang bermanfaat, dan sikap kader. Arsip juga memperlihatkan bahwa janji organisasi harus diuji oleh waktu. Jika pada 2019 PAC berjanji membuat KTA baru, publik pada 2026 berhak bertanya apakah KTA itu benar-benar tertib. Jika pada 2019 PAC berjanji menjalankan program kemajuan, publik pada 2026 berhak bertanya program apa yang sudah berjalan. Jika pada 2019 PAC berjanji menyiapkan Mubes, publik pada 2026 bisa melihat bahwa Mubes XI akhirnya digelar dan menghasilkan kepemimpinan baru.

Pelajaran lain yang bisa dipetik adalah pentingnya menulis dan mendokumentasikan kegiatan organisasi. Tanpa tulisan Ma'sum Af pada 12 Oktober 2019, rapat di rumah Achmad Khusnul Arifin itu mungkin hanya menjadi kenangan segelintir orang. Karena ditulis, rapat itu menjadi dokumen yang bisa dibaca ulang, dievaluasi, dan diperbarui pada 2026. Bagi PAC dan Ranting di daerah lain, pelajaran ini jelas, dokumentasikan kegiatan dengan jujur, sebutkan nama, tanggal, lokasi, dan hasil rapat secara apa adanya. Dokumentasi yang jujur akan menjadi modal kepercayaan di masa depan. Dokumentasi yang dibuat-buat justru akan menjadi bumerang saat dicek silang oleh warga dan media.

AspekData Lama 2019Update Terbaru 2026
Agenda RakorTiga progres, KTA baru, program PAC dan Ranting, persiapan MubesDigitalisasi data, program dampak, kaderisasi berkelanjutan
Forum NasionalMubes Jakarta 25-28 Oktober 2019Mubes XI Jakarta, 14 Oktober 2026, Japto terpilih aklamasi
Struktur Hadir50 personil, 6 ranting, SrikandiStruktur berjenjang MPN hingga Ranting tetap jadi penopang
Pesan UtamaKompak, sopan, taat AD ART, KTA bukan tamengHumanis, merakyat, kawal ekonomi rakyat

Catatan Redaksi tentang Verifikasi Data Lama dan Baru

Redaksi mempertahankan semua data lama dari artikel asli tanpa mengubah nama, tanggal, lokasi, jumlah, dan kutipan. Nama Achmad Khusnul Arifin sebagai Wasekjen PAC Mulyorejo, nama Judianto atau Deni sebagai Ketua PAC Mulyorejo, daftar enam ranting, jumlah 50 personil, waktu Jumat 11 September 2019 pukul 19.00 WIB, Mubes Jakarta 25-28 Oktober 2019, serta kutipan tentang kekompakan dan larangan menjadikan KTA sebagai tameng, semuanya dipertahankan. Data baru yang ditambahkan, seperti Mubes XI pada 14 Oktober 2026, terpilihnya Japto Soelistyo Soerjosoemarno secara aklamasi, duet dengan Musa Rajekshah, serta rencana pengumuman kepengurusan lengkap pada Hari Lahir ke-67 pada 28 Oktober 2026, ditulis dengan konteks waktu yang jelas agar pembaca tidak mencampuradukkan mana fakta 2019 dan mana fakta 2026.

Perbedaan penyebutan masa bakti pada pemberitaan Mubes XI, yakni 2026-2031 pada sebagian media dan 2025-2030 pada media lain, juga dicatat secara terbuka dalam artikel upgrade ini. Redaksi tidak menghapus perbedaan itu, melainkan menampilkannya sebagai variasi redaksional yang perlu diverifikasi lebih lanjut lewat dokumen resmi MPN. Sikap seperti ini penting dalam jurnalisme upgrade, karena pembaca berhak tahu bahwa tidak semua detail baru sudah final dan seragam. Yang sudah jelas adalah terpilihnya Japto secara aklamasi pada 14 Oktober 2026 dan arah organisasi yang ditegaskan dalam Mubes XI, yakni mendukung pemerintah dan mengawal Asta Cita. Detail administratif lain akan terus diperbarui seiring terbitnya dokumen resmi organisasi.

Ajakan untuk Kader dan Warga Mulyorejo

Bagi kader PAC Mulyorejo yang pernah hadir dalam Rakor 2019, artikel ini adalah undangan untuk mengingat kembali janji yang pernah diucapkan di ruang rapat. Apakah KTA baru benar-benar diurus dengan tertib, apakah program bakti sosial benar-benar berjalan, apakah sikap sopan dan taat AD ART benar-benar dijaga. Bagi kader baru yang baru bergabung pada 2025 atau 2026 dan tidak sempat hadir pada 2019, artikel ini adalah jembatan untuk memahami dari mana PAC ini berasal dan ke mana arahnya. Bagi warga Mulyorejo yang bukan anggota, artikel ini adalah bahan untuk menilai, apakah kehadiran organisasi di lingkungan mereka benar-benar memberi manfaat atau hanya sekadar atribut.

Untuk mengikuti perkembangan terbaru seputar organisasi masyarakat, dinamika Surabaya, dan kabar nasional lainnya, pantau terus update di mediaindonesiajaya.com agar tidak ketinggalan informasi yang sudah terverifikasi dan diperbarui dari waktu ke waktu.

Topik: #berita
Bagikan: